Perencanaan Keuangan Syariah: Manajemen Hutang dan Proteksi yang Islami

Dear Planners,

Pada postingan yang lalu, telah kita bahas perencanaan keuangan Islami, dimulai dengan pencarian nafkah dan pengeluaran yang baik dan halal. Kali ini, kita akan bahas manajemen hutang yang Islami.

Setiap orang pasti pernah berhutang, walau hanya sekali di dalam hidupnya, apakah itu untuk keperluan produktif atau untuk keperluan konsumtif. Namun, sangat disayangkan apabila seseorang harus berhutang hanya untuk memenuhi keinginan hidup atau mengikuti trend semata. Di dalam Al Quran Surat Al Isra’ ayat 26-27 Allah melarang orang Mukmin untuk bersikap hidup boros.

26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Sikap hidup boros dapat membuat seseorang mudah berhutang hanya untuk memenuhi keinginan konsumtifnya semata. Apabila dibiarkan, lambat-laun hutang tersebut akan menumpuk sehingga si penghutang sudah tidak mampu lagi untuk membayarnya, dan menyeretnya ke dalam kekufuran.

Rasulullah SAW menyatakan hal tersebut pada sabdanya:

“Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

Hutang juga dapat menyebabkan seseorang berkata tidak jujur. Apabila berkata, dia berdusta. Seperti yang dikatakan Nabi Muhammad SAW:

“Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)

Oleh karenanya Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa untuk terhindar dari hutang.

“Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)

Apabila kita terpaksa berhutang, maka sebaiknya kita berniat untuk sesegera mungkin melunasinya, agar kita terhindar dari hutang yang dibawa mati. Segera setelah mendapatkan penghasilan, kita sisihkan terlebih dahulu uang kita untuk membayar cicilan hutang tersebut.

Presentase hutang terhadap pendapatan harus dijaga sedemikain rupa sehingga sisa pendapatan masih liquid untuk pemanfaatan lainnya. Berdasarkan pengalaman, persentasi hutang ini harus dijaga sekitar 30 % hingga 35 % dari pendapatan. Bila presentasi hutang lebih tinggi dari pada itu maka sisa pendapatan menjadi rigid. Susah bagi kita untuk memanfaatkan sisa pendapatan baik untuk kegiatan mengantisipasi risiko, investasi dunia apalagi untuk investasi akhirat.

Diterbitkan oleh championewealthplanner

Kami adalah tim perencanaan keuangan yang handal dan terpercaya. Kami memiliki etos kerja yang tercermin dalam nama dan motto usaha Kami. Nama "CHAMPIOne" Kami ambil dari singkatan Comprehensive and Honest Advice for Maximum Planning is Our number One. Sedangkan motto Kami adalah "WEALTH", yaitu Warmth, Empathy, Assurance, Love, Trust, and Honesty. Kami berusaha memberikan perencanaan keuangan yang menyeluruh dan terbuka bagi Anda dan keluarga agar tujuan finansial yang Anda impikan dapat tercapai. Karena perencanaan keuangan bersifat sangat pribadi, informasi yang menyeluruh dan terbuka dari Anda sangat dibutuhkan agar perencanaan tersebut dapat tercapai sesuai harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: