Saling Berbagi..

Selamat Pagi Planners..

Semoga pagi ini menjadi hari yang terbaik bagi Anda semua..

Bila Anda ingin berpastisipasi menyumbangkan kisah-kisah nyata diri sendiri ataupun kerabat Anda yang berkaitan dengan Perencanaan Keuangan, silahkan langsung hubungi Kami. Identitas akan Kami rahasiakan demi kenyamanan Anda. Berbagi Kisah, walau mungkin membuka lembaran hidup masa lalu baik itu sedih maupun bahagia, akan banyak membantu dan menolong para Planners yang lain supaya dapat mengambil hikmah dari suatu peristiwa dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Artinya : partisipasi Anda akan sangat bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Semoga amal ibadah Anda dibalas yang setimpal oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.. Amin..

Salam Planners..

KISAH NYATA (4) : Rencana Pensiun?? Belum Terpikirkan, Namun Waktuku Sisa 6 Bulan Lagi

Siang Planners,

 

Kami kembali dengan kisah nyata yang terjadi di sekeliling Kami, dan mungkin saja dialami oleh Anda atau orang-orang tersayang disekitar Anda.

Pada suatu waktu, Kami berkenalan dengan seorang Bapak yang belum pernah Kami kenal sebelumnya. Saat itu sudah malam hari, di bis Transjakarta (Busway), waktu menunjukkan pukul 20.30. Sebut saja namanya Bapak Iwan, berusia jalan 55 tahun (6 bulan lagi). Bapak Iwan bekerja pada salah satu kantor BUMN selama lebih dari 20 tahun. Ia baru saja pulang kerja, karena dapat giliran sampai jam 20.00. Bapak Iwan bercerita bahwa ia memiliki 3 orang anak laki-laki. paling kecil saat ini kelas 3 STM, jadi sekitar 4 bulan lagi akan lulus. Anak pertama usia 20 tahun sudah berkeluarga, pisah rumah dan memiliki pekerjaan. Anak kedua, usia 19 tahun sekarang belum dapat pekerjaan, sebelumnya ia sebagai tenaga kontrak di salah satu perusahaan BUMN juga, namun setelah kontrak habis, ia tidak dikontrak kembali. Istri Bapak Iwan hanya mengurus rumah saja.

Bapak Iwan bercerita tentang dirinya yang sudah mau masuk masa pensiun sekitar 6 bulan lagi. Kami pun ingin mengetahui bagaimana perencanaan pensiun Bapak Iwan ini. Lalu Kami mulai menanyakan tentang dana pensiun yang akan didapatkan. Ternyata Bapak Iwan mendapatkan uang pensiun sekaligus senilai 150 Juta Rupiah, dan uang bulanan sebesar Rp. 1.500.000/bulan. Selain itu, Bapak Iwan mendapatkan uang pencairan asuransi dari perusahaan senilai 70 Juta Rupiah. Bagaimana dengan jaminan kesehatan setelah pensiun bila asuransinya sudah dicairkan? Ternyata Bapak Iwan masih mendapat fasilitas dari intern kantornya, berupa jaminan biaya kesehatan sebesar 80 % dari total pengeluaran biaya pengobatan. Setelah mendapatkan data tersebut, Kami pun menanyakan apa yang akan Bapak Iwan lakukan setelah pensiun nanti? Apakah Bapak akan mencari pekerjaan lainnya? Bapak Iwan masih belum tahu apa yang akan Ia kerjakan setelah pensiun nanti. Namun Bapak Iwan merasa bahwa andaikan Ia terpaksa harus bekerja kembali, maka Ia harus cari pekerjaan yang tidak menggunakan aktivitas fisik berlebihan. Karena Ia sadar bahwa kemampuan fisiknya sudah jauh berkurang dibandingkan saat muda. Kemudian Kami menanyakan uang pensiun senilai 220 Juta Rupiah (150 Juta uang pensiun + 70 Juta uang tabungan asuransi) akan dijadikan apa? Bapak Iwan pun masih belum terpikirkan untuk saat ini..

Ini salah satu kisah nyata yang terjadi disekitar Kami. Anda dapat lihat, saat masuk usia pensiun nanti, Bapak Iwan kemungkinan masih harus menanggung biaya hidup 1 atau 2 anaknya bila belum dapat pekerjaan. Sedangkan uang pensiun bulanan nya tidaklah besar. Kami melihat bahwa Bapak Iwan ini memiliki risiko keuangan yang cukup besar. Belum lagi bila Bapak Iwan menderita penyakit cukup berat, sehingga perlu dana cukup besar, katakanlah 100 Juta Rupiah, maka Bapak Iwan harus menanggung sendiri 20 Juta Rupiah (20 % nya).

Bagaimana bila Anda atau orang yang Anda kasihi berada di posisi Bapak Iwan sekarang ini?

Silahkan hubungi Kami untuk konsultasi lebih lanjut..

Salam Planners…

Semangat Beraktivitas…

Selamat Pagi Planners,

 

Selamat beraktivitas di senin pagi ini.. Awali minggu ini dengan semangat tinggi dan tetap optimis dalam tiap perencanaan yang telah Anda susun…

I LOVE MONDAY !!!!

Salam Planners,

Hidup Anda, Pilihan Anda

Selamat Malam Planners,

Bagaimana dengan aktivitas Anda di hari libur keluarga ini.. Semoga Anda dapat meluangkan waktu khusus untuk keluarga Anda…  Terdapat beberapa pilihan yang dapat Anda ambil :

  1. Tidak punya waktu luang untuk keluarga DAN Tidak punya/sedikit uang,
  2. Tidak punya waktu luang untuk keluarga NAMUN Punya banyak uang,
  3. Punya banyak waktu luang untuk keluarga NAMUN Tidak punya/sedikit uang,
  4. Punya banyak waktu luang untuk keluarga DAN Punya banyak uang.

Manakah pilihan yang Anda inginkan??

Saat ini, apakah Anda telah mencapainya??

Tetaplah semangat dalam berusaha.. Anda pasti bisa meraihnya…

Salam Planners…..

KISAH NYATA (3) : Pensiun-Ku Tak Seindah Keinginan-Ku

Selamat siang Planners,

Topik kisah nyata kali ini akan membahas mengenai kehidupan pensiun seorang PNS dan kepala keluarga..

Sebut saja Bapak Budi, beliau merupakan pensiunan PNS golongan IV/e, yang merupakan golongan yang tinggi jabatannya. Beliau masuk usia pensiun 10 tahun yang lalu, tinggal di Jakarta. Uang pensiun yang didapatkan sebesar Rp. 3.500.000,-/bulan, untuk menafkahi Ia dan istri, dan kebutuhan di rumah sehari-hari. Anak-anaknya sudah tidak tinggal serumah, karena semuanya telah berkeluarga, dan pindah ke kota lainnya. Saat ini Bapak Budi berusia 70 tahun. Memiliki rumah di Jakarta, Bapak Budi tidak terbiasa bila tanpa AC. Selain itu, karena pengaruh usia, beberapa tahun terakhir, beliau “terpaksa” menggaji seorang pembantu rumah tangga dan supir. Karena kondisi fisik Bapak Budi dan istri yang tidak memungkinkan lagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan penglihatan pun sudah sangat terganggu. Setelah dihitung-hitung, ternyata pengeluaran Bapak Budi dalam sebulan meliputi : listrik, air dan telefon yang mencapai sekitar Rp. 1,5 juta sampai 2 juta sebulan. Biaya pembantu rumah tangga dan supir yang mencapai sekitar Rp. 3 juta sebulan. Sampai ini saja dapat dilihat bahwa uang pensiun yang Bapak Budi terima tidak cukup menanggung pengeluaran tiap bulan. Ini belum dihitung biaya hidup. Syukurlah beberapa anaknya ada yang memberikan bantuan dana untuk mencukupi kekurangannya.

Namun pertanyaannya, sampai kapankah Anak Bapak Budi akan membantu biaya pensiun orang tuanya?? Karena seluruh anaknya telah memiliki keluarganya sendiri, yang otomatis memerlukan biaya yang tidak kecil pula.

Nah sudah cukupkah dana pensiun yang sudah Anda siapkan, atau yang akan diberikan oleh perusahaan tempat Anda bekerja?? Dapatkah Anda bergantung kepada Anak atau saudara Anda untuk memenuhi kekurangan dana tersebut??

Bila jawabannya RAGU atau TIDAK, maka segera hubungi Kami pada data disebelah ini untuk menyusun perencanaan yang terbaik bagi Anda…

Salam Planners….

Semangat Pagi…

Semangat Pagi Planners

Selamat berlibur bersama dengan orang yang Anda kasihi. Jangan lupa untuk menantikan Kisah Nyata Kami nanti siang, yang bercerita mengenai kehidupan pensiunan PNS..

Salam Planners…

Sekilas Info

 

Malam Planners,

Bagaimana dengan ulasan Kisah Nyata yang Kami sampaikan tadi siang? Bila Anda melewatkannya, silahkan Anda buka kembali pada menu BERITA KAMI..

Kami memiki solusi berupa PETA HARTA™ bagi Anda untuk merencanakan tabungan Hari Tua, dan dapat digabungkan dengan jaminan kesehatan pula.

Silahkan Anda hubungi Kami pada kontak disamping ini untuk info lebih lanjut…

Salam Planners….

KISAH NYATA (2) : Seorang Kepala Keluarga dan Ayah yang “Terlantar”

Selamat siang Planners,

Kami kembali menyampaikan kisah-kisah nyata.. Kali ini bercerita mengenai sosok Kepala Keluarga…

Seorang Ayah (kita sebut saja Bapak Ali), saat ini berusia 50 tahun, telah bekerja pada sebuah perusahaan milik sebuah keluarga, selama 20 tahun. Tahun lalu, karena pemilik perusahaan meninggal, maka kepemilikan perusahaan dialihkan ke anak pemilik perusahaan. Tahun ini, Bapak Ali tiba-tiba mengalami musibah berupa penyakit yang cukup serius, sehingga ia harus di rawat di sebuah RS swasta di Bandung. Bapak Ali dirawat beberapa hari disana karena penyakit Kencing Manis, Kolesterol dan Darah Tinggi. Bapak Ali baru mengetahui punya penyakit tersebut saat itu, namun dokter mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya sudah melebihi ambang batas, bahkan beberapa sudah termasuk sangat tinggi.

Pihak perusahaan memberikan santunan seadanya, sekitar 1 juta rupiah saja, sedangkan total biaya RS yang harus dibayar mencapai 3 juta rupiah. Jadi sisanya Bapak Ali yang harus menanggung biayanya. Bapak Ali tidak diberikan Asuransi Kesehatan oleh perusahaan tempat ia bekerja.

Saat Bapak Ali keluar dari RS, ia tidak bisa langsung bekerja, karena kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya. Ia diwajibkan untuk terus kontrol dan cek darah tiap 1 bulan sekali untuk monitor kemajuan pengobatan. Biaya tiap kali berobat untuk 1 bulan, mencapai sekitar 400.000 an. Pihak perusahaan masih mau menanggung biaya pengobatan, namun baru 2 bulan, perusahaan sudah mengganggap Bapak Ali mengundurkan diri dari tempat kerjanya dengan alasan Bapak Ali sudah tidak mampu lagi kerja dengan maksimal. Bapak Ali tidak diberikan uang pensiun sedikitpun, karena ia tidak dianggap pensiun.

Cobaan tidak berhenti sampai sana saja. Anak laki-laki Bapak Ali, yang pada awalnya berkata sanggup untuk membiayai pengobatan ayahnya, setelah beberapa waktu seakan tak acuh. Ayahnya dibiarkan pergi berobat sendirian (padahal awalnya selalu ditemani), bahkan saat dokter nya menyarankan Bapak Ali untuk mengganti sandal/alas kaki yang aman buat kondisi kesehatan Bapak Ali, anaknya tak kunjung menyediakannya. Selain itu, istri Bapak Ali juga agak menjauhinya karena takut tertular penyakit Bapak Ali, walau dokter telah menjelaskan bahwa penyakit ini tidak menular.

Bapak Ali hanya bisa tabah dan pasrah dalam menghadapi “cobaan” ini. Karena tabungannya selama ia kerja, ia telah pakai untuk menafkahi istri dan anaknya. Ia tidak memiliki tabungan lagi……

Pelajaran apakah yang dapat Kita ambil dari Kisah Nyata ini ?

  1. Bekerjalah pada perusahaan yang memiliki jaminan (asuransi) kesehatan serta peduli terhadap kesejahteraan karyawannya. Lamanya Anda bekerja disebuah perusahaan tidak menjamin perusahaan akan sangat peduli terhadap Anda sebagai karyawannya.
  2. Kesehatan seseorang bisa tiba-tiba menjadi buruk tanpa melalui proses yang ringan dahulu. Tidak ada yang tahu, kapan sesorang akan mengalami sakit, dan beratnya penyakit.
  3. Saat penyakit berat itu datang, maka Anda perlu siapkan dana yang cukup besar dan bisa dalam waktu jangka panjang untuk pengobatannya.
  4. Keluarga ataupun orang yang terdekat dengan Anda sekalipun, belum tentu dapat membantu biaya pengobatan Anda seterusnya. Jadi siapakah yang akan menjamin biaya pengobatan Anda selanjutnya?
  5. Saat uang tabungan hasil kerja keras Anda telah habis, maka apakah Anda siap menghadapi pensiun/ usia tua Anda dengan nyaman? Keluarga Anda belum tentu dapat memberikan kebutuhan saat Anda pensiun. Jadi kepada siapakah Anda menggantungkan biaya hidup Anda?

Bapak Ali ini memerlukan perencanaan asuransi kesehatan dan dana pensiun, yang tentunya harus dimulai sejak sebelum Beliau menderita sakit seperti sekarang, karena “asuransi hanya bisa dibeli saat Anda tidak butuh (baca : sehat), tidak pada saat Anda butuh (baca : sudah memiliki penyakit yang tidak ringan)”. Jadi seperti kata pepatah : “Sedia payung sebelum hujan”…

Jadi para Planners, apakah Anda telah memiliki perencanaan keuangan untuk Hari Tua Anda dan jaminan Kesehatan ?

Silahkan hubungi Kami pada data disamping ini, untuk dapat merencanakan keduanya sekaligus..

Salam Planners…..

Pentingkah Perencanaan Keuangan???

Dear Planners,

 

Selamat pagi, selamat beraktivitas pada hari ini…

Siang nanti, Kami akan menyampaikan Kisah Nyata lainnya yang mungkin pernah dialami atau akan dialami beberapa diantara Anda….

Namun Kami harap, keadaan yang kurang baik tidak perlu terjadi kepada Kita semua, sedangkan keadaan baik terjadi pada Kita semua…

Siap-siap online nanti siang yah…

Salam Planners