Perencanaan Keuangan Syariah: Proteksi Dunia Akhirat dan Kesimpulan

Dear Planners,

Memiliki rasa aman adalah kebutuhan setiap manusia. Khususnya bagi umat Islam, memiliki rasa aman baik di dunia maupun di akhirat nanti adalah kebutuhan yang utama, dan rasa aman tersebut dapat diperoleh dari proteksi yang kita buat, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Bagaimana cara membuat proteksi tersebut agar kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat dapat terlindungi? Mari kita simak pembahasan berikut ini:

1. Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

Asuransi jiwa dan kesehatan syariah memiliki konsep saling tolong menolong untuk kebaikan. Seperti halnya kita mengumpulkan uang “kencleng” di masjid, masing-masing peserta/kontributor mengumpulkan dana ummat yang disebut sebagai dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Apabila ada peserta/kontributor yang mengalami musibah sakit, kecelakaan, atau meninggal, maka dana tabarru’ tersebut dapat dikeluarkan untuk menolong peserta tersebut, sesuai dengan akad ijab kabul yang telah dilakukan sebelumnya. Apabila di akhir tahun terdapat sisa (surplus) dana tabarru’, maka sisa dana tersebut akan dibagikan kembali kepada para peserta yang tidak pernah klaim selama 1 tahun, setelah dikurangi bagi hasil dengan pengelola dana.

Dengan konsep saling tolong-menolong dari asuransi jiwa dan kesehatan syariah ini, maka kita dapat memiliki proteksi sekaligus terus beramal secara pasif, karena dana tabarru’ yang kita kumpulkan setiap menitnya akan selalu digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. Sudahkah Planners memiliki asuransi seperti ini?

2. Zakat

Zakat merupakan bentukan dari kata zaka yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. Itu berarti bahwa setiap harta yang sudah dibayarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. Selain itu, zakat juga dapat menjadi proteksi kita baik di dunia dan di akhirat yang menjauhkan kita dari musibah dan marabahaya.

Zakat berperan sebagai pembersih sebagaimana sabun mandi, shampo serta detergen. Apabila kita tidak membayar zakat, harta benda kita masih kotor berlumpur. Harta kita masih belum suci, belum bersih, kurang baik, kurang berkah dan akan dengan mudah hilang dari genggaman kita. Ingat sifat reversible harta!.

Ada dua pendapat yang berbeda dalam perhitungan zakat ini. Perbedaannya pada sandaran yang digunakan. Pendapat pertama menyandarkan zakat penghasilan pada zakat pertanian dan pendapat kedua menyandarkan pada zakat perdagangan. Pendapat pertama menyatakan bahwa bila total penghasilan dalam setahun melebihi nisab 750 kg beras maka kekayaan yang dimiliki sudah terkena wajib zakat. Besarnya zakat yang harus dibayarkan adalah sebesar 5% dari penghasilan.

Pendapat kedua menyatakan bila total penghasilan dalam setahun melebihi nisab 85 gram emas maka kekayaan yang dimiliki sudah terkena wajib zakat. Besarnya zakat yang harus dibayarkan adalah sebesar 2.5% dari penghasilan. Tidak ada yang salah dari kedua pendapat di atas, semua dikembalikan kepada Planners untuk memilih pendapat mana yang diyakini.

KESIMPULAN

Setelah membahas Perencanaan Keuangan Islami di atas, pertanyaan selanjutnya adalah berapa komposisi ideal dari pendapatan kita yang harus dibagi untuk tiap-tiap pemanfaatannya.

Alokasi pendapatan yang pertama adalah untuk membayar hutang yaitu maksimum sebesar 30% dari pendapatan. Angka tersebut dapat menjaga optimasi likuiditas pendapatan. Selanjutnya untuk pengeluaran biaya rutin sebesar 40%, dan membayar zakat sebesar 2,5% dari sisa pendapatan di atas.

Setelah itu, seluruh sisa dana langsung dikelompokan untuk pemanfaatan dengan komposisi 7,5% untuk investasi akhirat, 20% untuk pengumpulan dana darurat, dan 30% untuk investasi dunia dan proteksi.

Konsekuensi dari pengalokasian pendapatan di atas dapat mengakibatkan 3 situasi, yaitu:

a) Pendapatan > Pemanfaatan, kondisi ini merupakan kondisi yang ideal.

b) Pendapatan = Pemanfaatan, kondisi ini merupakan kondisi yang minimum

c) Pendapatan < Pemanfaatan, kondisi dimana akan terjadi chaos atau krisis.

Kondisi pertama yaitu dimana pendapatan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran. Kondisi ini merupakan kondisi IDEAL dan sangat diharapkan bagi kita semua. Apa yang akan kita lakukan pada kondisi ideal ini?

Terserah bagi kita untuk melakukan apa. Pada kondisi ini segala apa yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Apakah kita mau menginvestasikan kelebihan pendapatan ini untuk kehidupan dunia dengan jalan-jalan ke luar negeri?. Terserah! Semuanya terserah kepada kita.

Namun karena hidup di dunia hanya sementara sedangkan kehidupan yang abadi adalah kelak di akhirat nanti maka akan sangat bermanfaat bila kelebihan pendapatan ini dialokasikan dengan memperbanyak investasi untuk kehidupan akhirat. Perbanyaklah amal kebaikan, bayarlah zakat harta, juga dengan memperbanyak wakaf. Cobalah berpikir untuk membiayai ibadah haji kerabat kita atau orang shaleh di sekitar kita.

Jangan tunda berinvestasi untuk kehidupan akhirat kita. Mumpung kita sedang diberi amanah harta oleh Allah SWT. Ingat nasehat Nabi, “Jangan sia-siakan kekayaan sebelum datang kemiskinan”.

Kondisi kedua yaitu dimana pendapatan sama besar dengan pemanfaatan. Kondisi ini adalah kondisi MINIMUM. Apa yang akan kita lakukan apabila kita berada pada kondisi minimum ini? Bila kita termasuk orang yang easy going maka kita tidak perlu melakukan apa-apa. Kita hanya cukup menikmati hidup kita. Namun oleh karena kehidupan dunia hanya sementara sedangkan kehidupan akhirat adalah abadi, maka akan sangat bermanfaat bila kita menambah aktifitas untuk menambah pendapatan kita. Hasil yang kita peroleh dimanfaatkan untuk investasi akhirat.

Kondisi ketiga yaitu dimana pendapatan lebih kecil dibandingkan pemanfaatan atau dapat dibalik dengan pernyataan pemanfaatan lebih besar daripada pendapatan. Kondisi ini adalah kondisi KRISIS atau CHAOS. Kita semua pasti tidak menginginkan kondisi ini. Namun kondisi lingkungan terkadang memaksa kita untuk berada di kondisi krisis atau chaos ini. Bila hal ini terjadi maka kita harus melakukan salah satu dari kedua hal di bawah:

1) Kurangi biaya rutin kita. Bila biasanya kita makan bersama anak istri di restoran 3 kali dalam sebulan maka kurangi kebiasaan ini menjadi hanya sekali dalam sebulan. Bila kita biasanya menggunakan telepon atau internet sebesar 300 ribu sebulan maka kurangi biaya tersebut.

Tentunya biaya dari pos pengeluaran mana yang harus kita kurangi, diurutkan terlebih dahulu berdasarkan skala prioritas. Jangan sampai mengurangi alokasi untuk dana lainnya seperti dana darurat, dana investasi akhirat ataupun biaya investasi dunia, dan dana proteksi. Keempat biaya ini akan sangat kita butuhkan di masa yang akan datang atau di masa ketika kita menemui masalah yang tidak terduga.

2) Bila kita tidak bisa mengurangi biaya rutin maka kita harus melakukan aktifitas menambah pendapatan dengan berbisnis.

3) Tambahkan porsi investasi akhirat. Ingat membelanjakan sebagian rizki yang kita dapat di jalan kebajikan (shadaqoh) akan meningkatkan keberkahan harta yang kita miliki. Keberkahan akan ‘memanggil’ calon pendapatan lainnya datang ke kantong kita. Aamiin ya rabbal 'alamiin….

Diterbitkan oleh championewealthplanner

Kami adalah tim perencanaan keuangan yang handal dan terpercaya. Kami memiliki etos kerja yang tercermin dalam nama dan motto usaha Kami. Nama "CHAMPIOne" Kami ambil dari singkatan Comprehensive and Honest Advice for Maximum Planning is Our number One. Sedangkan motto Kami adalah "WEALTH", yaitu Warmth, Empathy, Assurance, Love, Trust, and Honesty. Kami berusaha memberikan perencanaan keuangan yang menyeluruh dan terbuka bagi Anda dan keluarga agar tujuan finansial yang Anda impikan dapat tercapai. Karena perencanaan keuangan bersifat sangat pribadi, informasi yang menyeluruh dan terbuka dari Anda sangat dibutuhkan agar perencanaan tersebut dapat tercapai sesuai harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: